mengapa ada “sastra”?

Mengapa ada “sastra”? Sebab, menurut para filsuf, manusia adalah “animal simbolorum” (mahluk yang membutuhkan simbol-simbol). Dan simbol menjadi gumpalan ekspresi atau ungkapan yang tercetuskan untuk kebutuhan ada bersama dengan yang lain, atau sekedar memenuhi kelahiran cita-rasa jiwa manusia. Simbol itulah bahasa. Tetapi itu pun belum menjawab pertanyaan di atas. Penulisa mencoba bertanya lagi, mulai dengan menukik pada apa itu hakekat “sastra”. Sastra adalah ungkapan jiwa dalam wujud bahasa, entah lisan entah tertulis. Dalam wujudnya yang paling kasar adalah kata-kata. Dalam wujudnya yang lebih tertata adalah cerita sebagai rangkaian kata-kata. Lalu, dalam wujudnya yang lebih terkhususkan lagi adalah karya sastra dengan ukuran-ukuran estetikanya. Sebab tidak semua kata dan cerita adalah sastra. Sastra sebagai sebuah karya tulis dan olah bahasa mengandung daya kreatif dan daya pelahir imajinasi yang multidimensional. Ketika seorang ibu mengatakan kepada anaknya, “Tangkap tikus-tikus itu!”, tentu saja itu hanya memiliki satu kandungan arti tentang perintah untuk menangkap binatang yang disebutnya tikus. Akan tetapi, bila seorang penyair mengatakan yang sama, “Tangkap tikus-tikus itu!”, artinya akan lebih kaya daripada sekedar sebuah referensi pada binatang tikus. Dan juga kata “tangkap” pun bisa jauh lebih mengundang multi-interpretasi. Jadi, mengapanya sebuah kelahiran sastra itu melibatkan seluruh kekuatan yang ada diri pelahirnya. Itulah kekuatan daya imajinasi. Imajinasi sebagai sebuah daya itu bagaikan lingkaran yang bergasing menciptakan sebuah cermin kebenaran (mungkin lebih baik disebut “kasunyatan”). Mengapa lahir “sastra” lalu dapat ditemukan jawabannya dalam kekuatan daya jiwa manusia menyampaikan laku-gulatnya dengan “sunyata”. Dalam pergulatan jiwa manusia dengan realitas (sunyata) adanya di dunia itulah rahim sastra berada. Lalu, jika demikian, memahami sastra itu tak lain adalah memahami suatu pergulatan manusia dengan sunyata. Dalam filsafat bahasa kita bisa belajar bahwa apa yang dimaksudkan dengan “memahami” itu adalah “bertemunya dua pengalaman yang serupa”. Atau dalam bahasa klasiknya sering dikatakan “yang sama mengenal yang sama”. Tidaklah mengherankan apabila sastra belum tentu bisa dipahami oleh seseorang, karena pergulatan dalam dirinya sendiri tentang kasunyatan belumlah setara. Seorang anak akan memahami kisah Mahabarata dalam kacamata dunia anak-anak. Mungkin yang ditangkap hanyalah “baik dan buruk” saja. Namun, makin orang menjadi dewasa sebagai manusia yang bergulat dengan realitas hidupnya sehari-hari, makin kaya pula ia memahami sebuah sastra. Tetapi, tidak jarang, orang-orang dewasa pun masih berjalan di tempat dalam memahami sastra. Kiranya, sebabnya adalah jauhnya kesadaran akan pergulatan dirinya sendiri. Kesadaran sebagai sebuah “laku” sering dirasa berat. Sehingga banyak orang cenderung “membunuh” kesadaran dalam kesibukan. Atau, kesadaran sebagai laku dianggap hanya membuang energi dan waktu saja. Lalu orang enggan melakukan refleksi, menjaga jarak barang sejenak, untuk melihat hidup dan kerjanya sehari-hari. Orang enggan melihat realitas. Memahami “sastra” adalah sebuah olah kesadaran, di mana kita bercermin pada kisah yang tertulis di sana, dan menemukan pengalaman kita sendiri. Memahami “sastra” itu membutuhkan kebesaran jiwa. Dan, pada gilirannya, memahami “sastra” itu sekaligus memacu manusia untuk memiliki kebesaran dan keluasan jiwa atau kesadaran (magnanimity). Membaca dan menikmati sastra lalu bisa disebut juga sebagai laku-olah kesadaran, yang pada gilirannya memacu jiwa bergulat sendiri dengan kenyataan. Bergaul dengan sastra itu lalu bisa berarti mendidik kebesaran jiwa. Dalam sejarah, telah banyak terbukti bahwa para pemimpin-pemimpin besar dunia memiliki kebesaran jiwa lewat sastra. Tak kalah pula, para mistikus dari berbagai agama, mampu mencapai kehidupan mulia meski kadang tragedi ditemuinya, karena mampu ber-olah sastra. Sastra telah menjadi pengasah jiwa mereka.

This entry was posted in pendahuluan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s